Tuesday, January 15, 2013

Problem or Outcome Thinking?

Beberapa hari yang lalu saya terkena flu.  Yang pertama kali di kepala saya adalah "Hmmm kapan ya virus ini datang?"  Apakah ketika saya naik bus lupa cuci tangan setelah memegang pegangan di bus, ataukah di MRT?  Atau karena udara sedang kurang baik banyak turun hujan?  Atau ? 
Begitu banyak possibilitas saya menjadi pilek, lalu saya tertegun sambil meler-meler dikit.  Untuk apa ya saya berada di Problem Thinking?  Tentunya suara internal saya menjawab "Ya perlu dong kalau tidak besok-besok bisa kena pilek lagi lho?  Lalu saya berpikir "Apakah benar penyebab yang sama bisa dihindari?  Bukankah jauh lebih baik untuk menjaga diri sehat selalu sehingga virus tidak bisa datang"?

Orientasi berpikir pun berubah dari Problem Thinking menjadi Outcome Thinking.
Apa yang saya inginkan? Saya ingin sembuh dan bisa beraktivitas lagi dalam waktu sehari.

Setelah mengetahui outcome thinking, tinggal melakukan outcome orientation, dimana pikiran diorientasikan terus untuk mengejar apa yang diinginkan (fokus) yaitu sembuh dan tentunya untuk outcome yang lebih besarnya yaitu sehat selalu.

Outcome tersebut bisa didapatkan dengan istirahat, jauhi minuman dingin, minum vitamin C untuk sekarang, tidur pada waktunya dan lainnya.

Dengan outcome thinking,  terasa badan menjadi lebih cepat sehat karena pikiran tidak terganggu dengan perasaan bersalah telah melakukan ini melakukan itu menjadi sakit (problem thinking) sudah sakit kok malah bermuram durja lagi , bermain-main investigasi lagi...bahkan tersasar di dalam labirin penyesalan.

Jadi keluarlah dari benang kusut pikiran dan biarkan pikiran fokus kepada outcome!

Wednesday, January 9, 2013

Macet dan Ketidakberdayaan

Saya sedang membaca buku Martin E.P. Seligman - Learned Optimism

Ia menceritakan mengenai eksperimen "ketidakberdayaan" (helplessness) dengan menggunakan anjing. 
Percobaan Pertama
Anjing A - Diberikan sengatan listrik yang mampu dihentikan dengan mematikan panel menggunakan hidungnya - Jadi si anjing masih memiliki kontrol.
Anjing B - Diberikan sengatan listrik yang terhubungkan dengan sengatan yang sama yang terjadi pada Anjing pertama namun Anjing B tidak diberikan kemampuan untuk menghentikan sengatan listrik.
Anjing C - Tidak mengalami sengatan listrik

Percobaan Kedua
Sama seperti di atas hanya saja menggunakan partisi cukup rendah antara ketiga kandang tersebut (shuttle-box) yang berarti setiap anjing memiliki pilihan untuk loncat ke kandang anjing yang lain untuk menghindari sengatan listrik.

Dari Percobaan Kedua, Anjing B dengan cepat belajar ketidakberdayaan "Learn Helplessness" karena apa yang terjadi pada percobaan pertama dimana Anjing B tidak memiliki kontrol.  Anjing A dan C berhasil meloncat ke daerah aman dari sengatan listrik sedang Anjing B duduk manis merasakan sengatan listrik terus menerus.

Melihat ketidakberdayaan yang terjadi pada Anjing B perasaan tidak memiliki kontrol dan tidak mampu mengubah keadaan mengingatkan saya terhadap macetnya Jakarta.  Dimana terkadang kita merasa tidak memiliki kontrol terhadap macetnya jalanan Jakarta.

Apakah benar kita tidak memiliki kontrol?  Saya yakin kita bisa mengubah Jakarta menjadi lebih baik beberapa hal yang bisa dilakukan kita sebagai warga Jakarta - beberapa ide yang bisa dicoba walaupun beberapa bisa mengernyitkan alis anda :)

1. Flexible Time -  Mintalah Flexi time kepada manager anda, pergi ke kantor lebih pagi satu jam dan pulang lebih pagi satu jam.
2. Ubah jam kerja untuk kantor anda - Jika anda di posisi upper managerial mungkin bisa mengusulkan untuk perusahaan anda bekerja 30 menit lebih pagi pulang dan pergi.
3. 1 hari kerja virtual - Beberapa perusahaan sudah bisa mengijinkan para pekerja bekerja dari rumah, dengan anda bekerja dari rumah seminggu sekali bisa membantu padatnya jalanan.
4. Nebeng - untuk pekerja yang satu kantor mungkin bisa saling nebeng pergi dan pulang kantor menurunkan jumlah mobil di jalan.
5. Naik Busway/Kendaraan umum - (kalau hujan emang susah naik kendaraan)
6. Perusahaan-perusahaan mengatur jam kerjanya, bahkan ada yang bekerja di hari minggu dan libur dari rabu misalkan. (agak ekstrim)
7. Memindahkan kantor dari pusat kota
8. Tertib di jalan tidak saling potong-memotong, mentaati rambu2 yang ada - ya memang rasanya kurang kalau bawa mobil tidak motong :) 
9. Beli/Bawa makan malam - Dengan menghabiskan waktu makan malam di kantor berarti bisa pulang lebih malam ketika jalanan sudah lebih kosong.
10. Gunakan jembatan penyebrangan sebisa mungkin - ya kadang memang agak jauh tapi menghindari kendaraan stop mendadak.
11. Pergi Fitness dulu - sebelum pulang atau pergi ke kantor
12. Bus Sekolah - Ya yang ini masih impian tapi kalau anak2 bisa ditaruh dalam satu bus kemacetan agak mereda seperti yang kita rasakan ketika liburan sekolah terjadi.
13. Berhenti di belakang lampu merah bukan di depan! - Ya kita tahu deh sapa yang suka bengong di depan lampu merah.
14. Sewa Apartemen deket kantor - wuih yang ini mahal punya, tapi saya lihat sudah beberapa teman saya melakukan ini karena kecapekan naik kendaraan pulang pergi kantor.
15. Monorail - ini kita tunggu dulu ya sebagai penyemangat kalau pas lagi macet di jalan, suatu saat Jakarta lebih baik.
16. Jalan kaki untuk jarak 1-2 Km
17. Dan lain lain...

Ini hanyalah ide-ide , yang terpenting adalah kita melakukan sesuatu untuk membantu jalanan Jakarta yang lancar!  Mari kita menjadi warga berdaya dan mampu mengubah bahkan hal yang kecil pun.

Wednesday, December 5, 2012

Aha moments

As I embark myself closer to my dream to become a trainer, I go to ICF event to build network and to gather more knowledge on what training available out there.

On 29th October 2012 an event called "Aha Moment".
Without much expectation I join the program.  During those one hour program I learn about Aha moment and how to invite it when we needed.  It was quite interactive way using outlet like drawing on a blank paper.  The whole one hour flows so fast.

There was a doorprize, which is the book from the speaker itself Kevin Cottam. 
Out of 30-40 people I got the prize a book about Aha, the full title called "Aha mother's pearls" a book consist of 27 inspirational stories.  I guess universe work mysteriously and let the book fall to me probably I needed the book the most.

I read couple of the chapters (or pearls) but somehow got caught up with all the hustle bustle of office and left if for a while.  I know I need to read it further only last week when I fly to Jakarta to attend my 6 seconds EQ training. I bring the Aha mother's pearls book to accompany me while waiting on the MRT, check in on the airport and on the flight.  I remember Kevin said he finds a lot of experiences during flights, and I do to, this time my experience is with this book.

I like the chapter about Consistency and Intuition. It gives me an Aha of myself on these pearls
Consistency - It reminds me to keep being the best of me everyday , it is not easy but one need to strive.
Intuition       - It reminds me that sometimes we can't ignore our heart eventhough how aluring the materialistics benefit be.  Sometimes there are things which can be answered by thinking alone and needs feeling to work together.
These are just 2 out of 27 inspirational stories of Kevin's life around the world.

Thank you Kevin for teaching me a glimpse of Aha moment and also thank you for taking time to write a book full of wisdom, I definitely learn a lot.

More about Kevin and his book can be found in this link
http://www.kevincottam.com/